Rabu, 27 Oktober 2021

Dari Aku, Untuk Aku, Dan Bipolar Yang Bersemayam Dalam Diri Tanpa Permisi

 Pernah gak sih lo merasa otak lo tuh penuh banget sama sesuatu yang gak bisa lo ungkapin pake kata-kata?

Pernah gak lo merasa lo tuh capek! Bener-bener capek secapek-capeknya capek!!!

Lo mau nyerah, tapi gak bisa!

Lo mau berjuang, tapi lo tau itu gak guna!!!!

Sampai sini lo sudah hopeless?

Selanjutnya apa? 

Pasrah? Gak bisaaaa!!!!!

Bergerak? Lo bingung dan gak tau harus mulai dari mana!!!!!

Bahkan lo ada ditahap diam pun lo ngerasa capek.

Bukan sekedar fisik, tapi mental lo pun diserang.

Diserang sama siapa? Orang lain? Bukan! Tapi sama diri lo sendiri!!!

Segala macam cara yang sesuai dengan 'kapasitas' dan 'kemampuan' diri udah lo coba.

Tapi hasilnya?

Masih menunggu...

Menunggu biar waktu yang menjawab? Yakin bisa? Yakin lo sesabar itu?

Untuk saat ini gue coba untuk gak mengulangi kesalahan yang sama lagi dan lagi untuk kesekian kalinya...

Tapiiiiiiii... sulitttttttttt...

Bukan mau lo juga buat begini kan? 

Tuhan yang melahirkan lo dengan kondisi seperti ini.

Lo mau marah sama Tuhan? 

Lo mau benci sama diri lo sendiri?

Udahlah! Masa-masa itu udah lo lewati dalam diam.

Sekarang jadi gimana?

Lo coba mulai dari belajar bersyukur atas semua yang telah terjadi didalam hidup lo selama ini, entah itu hal baik maupun hal buruk sekalipun.

Harusnya sih lo bersyukur lo masih bisa bernafas dengan tanpa bantuan, semisal tabung oksigen. Lo tau kan diluar sana banyak orang yang gak bisa sebebas lo untuk bernafas.

Gak terasa ya 1/4 abad sudah lo ada disini,berbagai macam hal sudah lo hadapi, meskipun beberapa kali lo sempat menyerah dan mencoba melawan takdir, tapi nyatanya lo, sekarang, disini, masih ada, masih bernafas dengan normal, masih bisa ngelakuin hal yang lo suka, masih bisa tersenyum meski gak selepas dulu... dulu?

Hei lupa ya? Dari kecil lo terbiasa menahan segala apapun yang lo rasa. 

Sendiri...

Jadi yang lo maksud "gak selepas dulu" ini palsu, fake!

Dulu itu masih banyak hal yang belum lo mengerti tentang kehidupan, lo gak pernah bener-bener lepas! 

Mungkin untuk sebagian orang 2021 jadi tahun yang menyenangkan untuk mereka. Tapi buat lo? HAHAHA

Sesuatu hal yang gak pernah terbayangkan sebelumnya, bahkan gak pernah terlintas sedikitpun dalam fikiran lo, harus terjadi..

Masuk Rumah Sakit Jiwa, 2 kali dalam jangka waktu 4 bulan.. 

Lo gak bisa sepelein tentang ini! 

Jauh sebelum itu, 2 kali lo coba melawan takdir Tuhan, iya lo lelah dan akhirnya lo memilih untuk "menghilang dari dunia adalah jalan terbaik" atas apa yang selama ini lo rasakan.. pada saat itu lo belum tau "nilai" dalam diri lo, lo belum tau seberapa berharganya lo sebagai manusia!

Diluar sana banyak orang-orang yang membentuk komunitas dan mengkampanyekan tentang self harm, kasarnya bunuh diri!!!

Itu artinya, nyawa yang ada dalam tubuh seseorang itu begitu berharga, gak peduli seberapa gak bergunanya orang tersebut..

Lo tau gak kalau lo itu berharga? 

Masih ada orangtua yang berharap bisa lo bantu..Masih ada yang ngebutuhin lo!!! Sadar!!!

Lo harus bisa bangkit dari segala keterpurukan yang selama ini menyiksa kesehatan mental lo!!!

Lo boleh kok marah, lo boleh kesel, lo boleh kecewa, tapi jangan berlarut..

Setelah belajar untuk bersyukur, coba lagi belajar untuk "ikhlas".

Hahaha, terlalu klise.. 

Gue? Dengan mental ini, dengan bipolar ini, semua kenangan bebas datang dan pergi tanpa permisi berlarian kesana kemari, dan sialnya kenangan buruk terlalu dominan dalam kehidupan yang selama ini gue jalani, bebas hadir dalam ingatan tanpa diminta, hati di "paksa" untuk merasakan kesakitan, sakit yang terkadang disertai benih dendam yang tanpa sadar akhirnya tertanam disana, "ikhlas" dan "dandam" gak bisa bersatu, lalu dilema hadir, pada akhirnya mental lagi yang jadi korban.. Seperti lingkarang yang gak berujung.. 

Jadi lo pilih yang mana? Ikhlas atau dendam? Sebelum belajar ilmu "ikhlas" ada baiknya lo coba untuk terlebih dahulu menghapus si "dendam".. Ikhlas gak akan bisa hadir dalam diri kalau dihati masih ada dendam..Gimana caranya menghapus "dendam" ini?

Sadarlah, lo, gue, mereka, kita semua cuma manusia biasa yang gak luput dari kesalahan. Gak ada orangtua yang sempurna, gak ada keluarga yang tanpa "kecacatan", dan yang menyiksa itu tanpa disadari ternyata sifat "perfectionist" ada dalam diri, pada akhirnya ekspektasi akan suatu hal terlalu tinggi dan terkadang gak masuk akal! Ya itu pun bukan mau diri ini.. Semua keabsurdan ada tanpa diminta.

Akan tiba saatnya lo ngerti, bahwa ternyata segala kesalahan menyakitkan yang pernah seseorang perbuat terhadap lo  merupakan cara Tuhan mengajarkan untuk gak melakukan hal yang "sama".

"Pengalaman merupakan guru paling berharga"


Btw, gue ngantuk! Lanjut nanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar